// tentang kami · studio website indonesia
Studio kecil dengan standar besar
Kami percaya website profesional tidak harus mahal. Setiap UMKM, sekolah, pesantren, dan personal brand di Indonesia berhak punya kehadiran digital yang layak — tanpa harus pusing soal coding atau hosting.
Webiti lahir di Madiun pada 2024 dari kebiasaan sederhana: bantu teman-teman UMKM bikin website. Banyak yang sebelumnya tertipu vendor murah yang ghosting setelah DP, atau bayar mahal ke agency yang ternyata cuma pakai template Bootstrap.
Kami melihat ada gap nyata di pasar Indonesia: studio kecil yang serius mengerjakan website dengan harga terjangkau, tapi standar kerjanya setara agency premium. Bukan freelancer one-man-show yang hilang ketika butuh maintenance, juga bukan agency Jakarta yang minimum order 30jt.
Posisi kami jelas: service-direct, tinggal pesan. Klien tidak perlu paham Next.js, Vercel, atau Tailwind. Cukup ceritakan tujuan bisnis, kirim referensi yang disuka, kami yang urus dari A sampai Z.
// angka kami
Skala kerja kami sejak 2024
200+
proyek selesai
42+
klien aktif
43
kota dilayani
96
lighthouse rata-rata
68%
klien repeat
// prinsip kerja
Aturan tidak tertulis di studio.
[ prinsip 01 ]
Tinggal pesan, kami yang urus
Klien tidak perlu jadi tech-savvy. Cukup ceritakan bisnis & tujuan, sisanya kami eksekusi end-to-end: brief, desain, develop, deploy, maintenance.
[ prinsip 02 ]
Transparansi harga, zero hidden cost
Mulai Rp 299rb berlaku apa adanya. Domain, hosting tahun 1, SSL, revisi unlimited, maintenance seumur hidup — semua sudah include.
[ prinsip 03 ]
Source code milik klien
Kami tidak vendor-lock. Setiap project source code 100% milik klien, bebas dipindah kapan saja. Trust harus dibangun bukan dipaksa.
[ prinsip 04 ]
Performa adalah standar, bukan add-on
Setiap website yang kami kerjakan harus lulus Core Web Vitals by default. Speed, mobile-friendly, accessibility — bukan bonus tapi kewajiban.
[ prinsip 05 ]
Spesifik per konteks
Website desa beda dengan website kafe. Kami investasikan waktu untuk memahami konteks industri & wilayah klien, bukan apply template.
[ prinsip 06 ]
Remote-friendly, tetap personal
Komunikasi via WA, brief async, payment transfer — efisien tapi tidak dingin. Setiap klien dapat 1 PIC yang konsisten dari awal sampai launch.
// timeline
Perjalanan singkat
2024
Awal mula
Berawal dari kebiasaan bantu teman UMKM Madiun bikin website. Banyak yang tidak punya budget agency tapi butuh kehadiran online yang serius.
2025
Studio resmi
Mendirikan studio fisik di Madiun dengan 4 anggota tim. Mulai melayani klien dari luar kota lewat workflow remote yang sudah teruji.
2026
Nasional reach
Mengembangkan layanan ke 28 jenis service, 50 industri, dan 43 kota. Tetap mempertahankan harga mulai 299rb tanpa kompromi kualitas.
// studio madiun
Kenapa basis kami di Madiun.
Studio fisik Webiti berada di Madiun, kota yang berfungsi sebagai simpul ekonomi Karesidenan Madiun — wilayah yang juga meliputi Magetan, Ngawi, Ponorogo, dan Pacitan. Pilihan ini bukan kebetulan. Tiga dari empat anggota tim inti lahir dan besar di sekitar wilayah ini, sehingga konteks budaya, ritme bisnis lokal, dan jaringan UMKM bukan sesuatu yang kami pelajari dari laporan — kami menjalaninya setiap hari.
Berbasis di Madiun memberi kami dua keuntungan struktural yang jarang dimiliki agency Jakarta. Pertama, biaya operasional yang rasional: kami tidak perlu menutup sewa kantor pusat kota dengan harga proyek yang membengkak. Karena itu paket mulai Rp 299rb bukan trik pemasaran — ia margin yang sehat untuk skala kerja kami. Kedua, kedekatan dengan klien-klien UMKM yang justru paling membutuhkan kehadiran digital terjangkau: pemilik konveksi Madiun, kafe Magetan, klinik Ponorogo, atau sekolah Ngawi bisa datang langsung ke studio untuk diskusi awal — sesuatu yang sulit dilakukan bila studio kami di Jakarta atau Surabaya.
Studio kami juga sengaja dibuat sebagai ruang kerja, bukan ruang pamer. Tidak ada lobi mewah atau pajangan trofi. Yang ada adalah empat meja kerja, papan tulis penuh sketsa proyek aktif, rak referensi buku, dan dapur kecil tempat kami minum kopi sambil mengulas brief klien. Klien yang berkunjung sering bilang terkejut: “tempatnya kerja beneran ya, bukan kantor jualan”. Itu memang yang kami inginkan — kami tidak menjual citra, kami menjual hasil kerja.
Posisi geografis Madiun di jalur kereta cepat dan tol trans-Jawa membuat workflow remote untuk klien luar kota tetap lancar. Mayoritas klien aktif kami justru bukan dari Madiun — mereka tersebar dari Aceh sampai Jayapura, dilayani lewat workflow asynchronous yang sudah teruji empat tahun. Studio fisik tetap relevan untuk klien Karesidenan yang prefer tatap muka, dan sebagai jangkar identitas: kami bukan studio virtual yang bisa hilang besok pagi — ada alamat, ada tim, ada catatan pekerjaan yang bisa diaudit.
// cara kerja
Apa yang membedakan kerja kami.
Setiap studio mengklaim “profesional” dan “berkualitas”. Klaim itu murah. Yang lebih berguna adalah menjelaskan kebiasaan kerja yang konsisten kami jalankan — supaya calon klien bisa membandingkan dengan studio lain dan memilih dengan data, bukan tagline.
Pertama, brief tidak pernah diisi pakai template kosong. Setiap project diawali sesi diskusi 30–60 menit via WhatsApp call atau Google Meet — kami pertanyakan goal bisnisnya, siapa pelanggan idealnya, halaman apa yang paling sering ditelusuri kompetitor klien, dan apa keberatan terbesar calon pelanggan saat memutuskan beli. Brief yang kami susun setelahnya menjadi dokumen rujukan yang dibagikan ke klien; kalau ada perubahan scope, brief diperbarui bersama, bukan diam-diam ditolak.
Kedua, setiap proyek punya satu Person-in-Charge yang menemani dari brief sampai launch. Tidak ada estafet antar departemen yang membuat klien harus menjelaskan ulang cerita bisnisnya tiga kali. PIC ini yang merangkum hasil diskusi, mengirim update mingguan singkat (3 paragraf, tidak ditambah-tambah), dan menjawab pertanyaan klien dalam 1–2 jam kerja. Empat tahun menjalankan workflow ini cukup membuktikan satu hal: konsistensi komunikasi mengalahkan kecanggihan teknologi.
Ketiga — dan ini yang jarang kami sebut di halaman lain — komitmen jangka panjang ke klien tidak berakhir saat invoice dilunasi. Setiap project Webiti dapat maintenance seumur hidup: update keamanan, perbaikan bug, kompatibilitas browser baru, hosting tahun pertama, dan konsultasi via WhatsApp untuk pertanyaan kecil yang tidak butuh scope baru. Bukan trik retensi — ini bagian dari janji awal. Klien yang join 2024 masih dapat patch keamanan di 2026 tanpa tagihan baru. Akibat samping dari kebiasaan ini: 68% klien kami repeat order untuk project kedua, ketiga, atau keempat. Repeat order bukan dari diskon, tapi dari rasa ditemani.
Tiga kebiasaan ini tidak revolusioner — mereka standar yang seharusnya ada di setiap studio yang serius. Yang kami lakukan hanya menjaganya konsisten, project demi project, dan tidak mengorbankannya saat antrian proyek menumpuk.
// tim
Manusia di balik Webiti.
// founder
Fauzan Founder & Lead Developer
Mendirikan Webiti pada 2024 di Madiun, berawal dari kebiasaan membantu teman-teman pemilik UMKM membuat website yang layak tanpa tarif agency. Sebagai lead developer, ia menangani langsung arsitektur teknis tiap proyek — memastikan setiap website lulus Core Web Vitals, mobile-first, dan punya fondasi SEO yang sehat sejak hari pertama. Sebelum Webiti berdiri ia menghabiskan beberapa tahun freelance membangun website untuk bisnis lokal di Jawa Timur, dan dari situ menyadari bahwa kebanyakan UMKM butuh website yang cepat, jujur, dan tidak ditinggalkan begitu live. Itu yang ingin ia perbaiki lewat Webiti — proyek yang dijaga sampai benar-benar membantu pemiliknya tumbuh.
Diana Brand & UI Designer
Memimpin arah visual setiap proyek Webiti: sistem warna, tipografi, dan tata letak yang membuat tiap website terasa khas sesuai brand klien — bukan template seragam. Fokusnya memastikan desain tetap rapi dan mudah dipakai di semua ukuran layar, termasuk oleh pengunjung yang tidak terbiasa dengan teknologi. Latar belakangnya di desain grafis cetak membuatnya terbiasa berpikir soal hirarki visual dan keterbacaan jauh sebelum sampai ke layar. Untuk tiap proyek ia mulai dari menelusuri brand klien — gaya bicara, audiens, dan kompetitor — sehingga pilihan warna dan tipografi terasa beralasan, bukan tren sesaat yang cepat usang.
Ridho Backend & Integrasi
Menangani sisi teknis di balik layar: form, basis data, payment gateway, hingga integrasi tools seperti WhatsApp Business API dan CRM. Tugasnya memastikan setiap fitur yang dijanjikan benar-benar berjalan stabil dan aman setelah website klien tayang. Dengan pengalaman beberapa tahun membangun backend untuk startup lokal, ia paham bahwa fitur paling rapuh biasanya yang paling tidak terlihat — antrian email, retry payment, validasi input. Karena itu ia menulis tiap integrasi dengan asumsi sesuatu akan gagal, sehingga klien tidak harus tahu betapa banyak yang sebenarnya terjadi di balik tombol 'Kirim'.
Naya SEO & Content Strategist
Bertanggung jawab atas strategi SEO dan konten Webiti — riset kata kunci, struktur halaman, schema markup, sampai menulis panduan di blog ini. Fokusnya membuat website klien benar-benar ditemukan dan dipercaya di Google, bukan sekadar online. Sebelum bergabung ia menjalankan blog independen di niche bisnis lokal Indonesia dan belajar langsung bagaimana Google memperlakukan situs kecil yang konsisten. Pendekatannya di Webiti sama: bangun konten yang menjawab pertanyaan nyata calon pelanggan, lengkapi dengan struktur teknis yang benar — schema, internal link, kecepatan — lalu biarkan trafik organik tumbuh perlahan tapi konsisten.
// siap mulai?
Mau ngobrol langsung
tentang bisnismu?
Kami juga manusia. Tidak perlu formal — cukup WA santai, kami balas dalam 1–2 jam kerja.